berkaitan ama blog yang barusan aku tulis, masak lebih butuh teknik daripada perasaan.. ini ada link yang menarik buat pembaca (cieehh pembaca..) khususnya buat sarjana2 teknik yang terjerembab (seperti masuk ke kubangan pasir hisap) dalam dunia memasak hahah.. http://www.cookingforengineers.com/ heheh, mnurutku menarik sih. coba dibaca headline nya…
"Have an analytical mind? Like to cook? This is the site to read!"
waaahhh.. salut ama yang punya ide mbuat situs itu, ga terpikir buatku ada pendekatan analitis dalam memasak. aku dlu mikir butuh bakat yang kuat untuk dapat memasak dengan baik. tapi ternyata.. bakat saja tidak cukup.. butuh teknik!
***
mmm di blog ini aku pingin menulis sesuatu yang aneh.. yang mungkin terdengar kontroversial juga, ga lazim, ga pantas dibahas, ato apalah itu… tapi disini aku cuman pengen nulis aja.. terserah bagaimana pembaca menyikapinya..
pada suatu hari, tempo hari waktu aku lagi down2nya ama bisnis resto yang tiba2 mangkrak hihih… aku sempat chatting dengan salah seorang sahabatku. aku curhat tentang banyak hal ke dia.. dan giliran dia berbicara… dia mengungkapkan sebaris kata2 sederhana tapi cukup membuat aku jadi terus berpikir tentang kebenaran kata2 tersebut… dia berkata… "udahlah… rejeki sudah ada yang ngatur"… hmmmm sampai disini aku berusaha menyelami.. benarkah? apa benar rejeki itu sudah ada yang ngatur… apakah mindset ini sudah tepat untuk aku yakini..
[kenapa aku berpikir keras tentang ucapan tersebut??.. karena ucapan tersebut biasanya diucapkan saat kita jatuh, bukan saat kita sedang bersemangat dalam menjalani sesuatu. saat kita menghadapi ujian tesis misalnya.. ga mungkin kita mengucapkan dalam hati, "klo rejeki ya kita akan pasti lulus... kalo engga, ya emang udah waktunya" hehe... rasanya ga lazim aja diungkapkan.. sebuah mindset/prinsip harus berlaku tetap, dia harus bisa mengakomodasi bagaimanapun kondisi kita.. dalam keadaan up atau down]
tanpa bermaksud mendebatkan dengan pola pikir agamis yang dimiliki tipikal masyarakat negara kita, aku ingin membahas tentang rejeki. hhmmm.. ga pantas dibahas kedengerannya, tapi aku pengen… karena aku merasa ada yang ngga sreg dengan pola pikir ini. apapun yang kita lakukan di bumi ini sebenarnya ga lepas dari yang namanya "pengelolaan rejeki". rejeki menjadi sesuatu yang penting untuk dikelola dengan baik, agar hidup juga lebih bermanfaat dan berarti.
selama kita hidup di bumi ini… prinsip dasar yang aku yakini.. adalah berlaku hukum kekekalan. seperti hukum kekekalan energi… energi tidak bisa hilang.. energi hanya akan berubah bentuknya menjadi bentuk energi yang lain (rasanya udah cukup jelas.. -berkali2 dibahas di pelajaran fisika sma dulu hihihi-). lantas bagaimana dengan rejeki.. apakah sama, berlaku pula hukum kekekalan rejeki?. dengan berat hati aku mesti mengatakan… iya.. berlaku pula hukum kekalan rejeki. menurutku.. manusia dilahirkan di bumi ini dengan memiliki proporsi rejeki yang tetap. Tuhan maha adil.. Dia memberikan kebebasan pada tiap2 manusia untuk mengelola rejekinya masing2…
seperti halnya energi yang memiliki bermacam bentuk.. (energi kinetik, energi potensial, energi listrik, energi mekanik, dll).. rejeki juga memiliki bermacam2 bentuk. rejeki kekayaan/materi, rejeki waktu, rejeki kesehatan, rejeki keluarga yang menyenangkan dan harmonis, rejeki kebebasan, rejeki bakat pada bidang tertentu, rejeki kepandaian, itu smuanya adalah bentuk2 rejeki dalam hidup… dan masih banyak ragam lainnya yang terlalu luas untuk didefinisikan. lantas jika itu persamaannya, trus apa bedanya?… bedanya adalah kalau proses pemindahan energi terjadi dalam satu waktu, tapi tidak demikian dengan proses pemindahan rejeki. pemindahan rejeki tidak terjadi sewaktu2, bisa terjadi kapanpun dalam rentang waktu siklus hidup manusia.
Hukum Kekekalan Rejeki Idan (HKRI) I berbunyi… "rejeki tidak akan hilang, rejeki hanya akan berubah bentuk dari satu bentuk ke bentuk lainnya."
Hukum Kekekalan Rejeki Idan (HKRI II) II berbunyi.. "kehidupan adalah syarat mutlak. dan perpindahan rejeki bergantung pada waktu"
HKRI I mungkin sudah cukup jelas, tapi bagaimana dengan HKRI II.. kenapa mesti bergantung pada waktu??. iyah.. proses berpindahnya rejeki mungkin tidak semerta2, ada waktu selama siklus hidup manusia untuk berpindah secara keseluruhan bentuk rejekinya.
contoh kasus, dalam kejadian misalkan ada orang kena phk.. jika ingin disikapi lebih positif.. "menurutku" itu adalah proses beralihnya bentuk rejeki saja.. dari rejeki kekayaan, rejeki pangkat, berubah menjadi bentuk rejeki waktu yang lapang, rejeki -potensial- untuk ngurusin keluarga (heheh), plus rejeki kebebasan.. kalo dirumuskan… (ahh tau ahh… fisika dlu dapat merah :p). oya kenapa orang kaya mesti dikatakan memiliki banyak rejeki, dan bgitu sebaliknya dg orang miskin… hhmmm… itu sbenernya adalah kesalahan dalam sempitnya tipikal manusia memandang, kenapa juga.. rejeki hanya dipandang dari sisi materialisme saja.
[ada pepatah sederhana juga yang membuat aku berpikir lagi kenapa manusia itu sebenernya diberi kebebasan seluas2nya dalam mengelola rejekinya... "bersakit-sakit dahulu... bersenang2 kemudian".. lantas kalo dibalik, apakah berlaku juga.. "bersenang2 dahulu.. bersakit2 kemudian" ??.. iyah benar, sebenarnya hidup ini adil. siapa yang menuai benih, dialah yang menuai hasil]
hidup adalah pilihan… selama durasi hidupnya.. terserah manusia mengatur proporsi rejekinya, dan ingin mendapatkan mayoritas rejeki yang berbentuk rejeki apa. smuanya itu adalah hak dan kebebasan manusia. bila menginginkan mengejar rejeki kekayaan yang sebanyak2nya.. itu bisa saja didapatkan. tp perlu diingat bahwa semua itu ngga gratis.. harus ada pengorbanan dari bentuk rejeki yang lain. mengorbankan rejeki waktu misalnya, atau mungkin jika keterlaluan dapat pula.. mengorbankan rejeki potensial keluarga yg harmonis, dll. yang pasti yang perlu diingat… rejeki jumlahnya tetap… mendominasikan satu bentuk rejeki, maka akan berbanding menurunnya bentuk rejeki yang lain.
dia akhir blog ga jelas ini, aku ingin mengambil sedikit kesimpulan…
1. saat manusia lahir dibumi, Tuhan memberikan energi potensial yang besarnya tertentu nilainya. kehidupan adalah syarat dasar manusia dapat menikmati rejeki di bumi (sama seperti halnya hukum fisika, yang pasti memiliki batasan2 pada keadaan bagaimanakah sebuah rumus dapat berlaku).
2. Tuhan telah memberikan rejeki pada tiap manusia yang besarnya tetap (yang berbeda2 pada tiap orang), tapi berapakah itu… tidak akan mampu dijawab karena memang tidak dapat dirumuskan. tapi.. justru disitulah seninya kehidupan… dan disitu pulalah peran takdir. takdir bukan untuk diketahui secara dini.. dia akan diketahui seiring dengan berjalannya waktu.
3. rejeki adalah sesuatu yang memiliki banyak bentuk yang pengelolaannya diserahkan sepenuhnya kepada manusia.
4. rejeki adalah suatu besaran yang juga tergantung dari waktu. jika dalam hukum kekekalan energi.. energi akan berpindah dalam satu waktu, tapi tidak demikian dengan rejeki. hukum kekekalan rejeki berpindahnya mungkin tidak semerta merta dalam satu waktu. karena itulah dibutuhkan kesabaran..
5. rejeki tidak sesempit dalam lingkup materi seperti yang selama ini dibayangkan.
nah bgitu deh.. tanpa mengesampingkan prinsip2 agamis, smoga tulisan tentang hukum kekekalan rejeki ini dapat membantu dan menjembatani dalam memandang hidup.. dengan lebih aktif, positif dan luas…
Hukum Kekekalan Rejeki Idan.. akan dipatenkan ke direktorat Hak Cipta Atas Kekakayaan Intelekgila… hehehehe..
RSS feed for comments on this post. TrackBack URL
haii..
baca blog ini direkomendasiin ama temen, dan setelah aku baca jd berasa sepertinya slama ini kurang bilang ‘Alhamdulillah’ hehehe..
haii… hehehehh aduh jadi malu nih, iya “alhamdulillah”. aku kurang pinter menulis artikel2 keagamaan… duh2 malu lagi heheh. terima kasih ya dah mampir
Hmmm…..sengaja mampir td niatnya mo ksih masukan bin buat acara outbound Sempu, mkn lain waktu aj sarannnya…
Tulisan ini menarik untuk disimak, memang tulisan apapun sebenarnya tidak ada gap yg tegas bin frontal antara cara pikir dan agama. Islam agama kita adalah agama yg Universal, sangant menjangkau segala aspek kehiduapan….termasuk kegelisahanku dulu tentang art/seni. btw….kembali ke tema tulisan di atas: aku pernah liat ceramahnya bpk Quraish Shihab di TV, beliau menerangkan bahwa kehidupan ini adalah sebuah sistem….sistem yang selalu berjalan, satu dan lain. jika salah satu jaringan pada sistem itu rusak/tidak terpenuhi, maka jangan heran jika dlm hidup kita suatu ketika terjadi sesuatu yg tdk kita inginkan tiba2 terjadi….
wah….comment pe disini aza….meski msh bnyk yg ingin disampaikan, Amik penunggu ke-2 Ngopienet udah datg Bozz….he.3X
Yang jelas dari commmet di atas, selama kita tidak menghentikan salah satu sistem itu, maka pasti kan sampai pd tujuan /menuai hasil. Apapun itu hasilnya.sesuatu yang ditanam baik kn menuai baik, dan sebaliknya….wis begitulah.he3X….just it, TengQ….^_^
hehe iya, kalo aku pribadi sih emang lebih memandang seperti tulisan diatas itulah hidup. aku lebih suka berfikir untuk lebih merasionalkan hal2 yang memang bisa dipikirkan (yang memang bisa dan wajib untuk dipikirkan, dan itu penting).
tapi klo dah memasuki ranah2 hal2 keimanan, takdir, justru penting untuk sama sekali tidak memikirkan.. jadi tinggal ikhlasnya, tapi tentu ini sebagai last action setelah segala daya dan upaya dikerahkan. bahkan force majeure aja ada langkah2 untuk mencegah hal2 itu untuk tidak terjadi lagi.
yang jadi permasalahan itu sering kita dah ikhlas, pasrah ato rela duluan sebelum memikirkan atau bekerja untuk memperjuangkan segala sesuatu. nah ini yang menurutku kurang tepat, level ikhtiarnya turun tapi ikhlas dan pasrah dlu yang dimajukan. klo ini dibiarin, akhirnya saat kita merasakan kegagalan secara terus menerus kita merasa dunia tidak adil dsb. dan ternyata setelah dirunut2, ternyata kita tidak cukup memanfaatkan atau peluang2 yang telah kita lalui. bukankah peluang dan kesempatan itu juga muncul sebagai anugerah dr yang diatas, dan kalau tidak dimanfaatkan atau dibiarkan berlalu begitu saja, justru kita menjadi makhluk yang kurang bersyukur..
1. menanggapi komentar kamu, bener kita jangan sampe mengganggu sistem itu, tapi bagaimanakah caranya agar sistem itu bener2 optimal, nah itu yg juga penting. bukan hanya sekedar membiarkan dia berjalan apa adanya, tapi juga membuat segalanya menjadi lebih baik.
2. apapun yang ditanam baik, akan menuai hasil baik… totally agree
Oke….merasionalkan itu memang dianjurkan. tapi memang masih berkaitan dengan keimanan/keyakinan. Islam mengenal istilah berfikir ini dgn sebutan ber”tafakur”, yaitu memikirkan sgala hal/kejadian hidup di bumi demi mengambil hikmah/mengaitkan dgn kekuasanNYA sehingga diharapkan makin menambah kuat iman/keyakinan kita pada Allah SWT. Jangan sampai rasionalisasi kita menguasai ranah iman. karna memang kemampuan manusia terbatas.
Mengenai system, sbg contoh simple adalah ketika kita kadang mengabaikan kewajiban kita sebagai seorang muslim. misal: sholat 5waktu yg wajib dilakukan tiap harinya tapi kenyataannya masih ada orang yg mengabaikan perintah itu. Perintah ini sederhana tp kebnyakan orang masih sulit menjalankannya, dgn bnyk alasan yg dianggap rasional. Bhkan ada yg menomor2kan “sholat5waktu” dgn lebih mengutamakan bentuk ibadah lain seprti zakat dan puasa…pdhl Allah SWT tdk menerima amal kebaikan seseorang sebelum dia menunaikan kewajiban sholatnya.
Ada sebagian orang beranggapan….sholat tidak sholat sama saja, misal: kaya tetap kaya, yg miskin tetap miskin, bahkan maling pun sholat…trus apa bedanya?????Jelas beda!
Secara…jika berfikir rasional, Oke memang kita bukan malaikat dan juga bukan setan yg selamanya akan berbuat baik dan juga jahat. sudah fitrah manusia diberi keimanan kadang naik dan kadang turun…, selayaknya selalu dijaga agar tetap dlm koridornya.
Sprti yg prnh I’am tuliskan dib log ttg 3pola hidup sehat(berdasarkan referensi yg prnh Qbaca di perpus Sastra UM), kebetulan pas lagi rajin….He2X. ada 3pola hidup sehat, olah raga, olah rasa dan olah pikir….
Sbg seorang muslim, “sholat5waktu” adalah kebutuhan pokok setiap orang. Wajib tidak bs ditawar, jk pun ada halangan krn sakit dll Islam sdh memberi keringanan sbgmn tata cara yg tlah diatur…
?Iman laksana cermin…..jika tiap hari tdk dijaga kebersihannya dia tdk akan memantulkan cahaya/hidayah yg datang padanya….
?Sedikit tapi rutin lebih baik dari pd banyak tp tak tentu,
?Apapun itu jk sudah kena wajib maka berat atau sangat berat maka tetap harus dijalankan……
Okelah kalo qt bs meyakini kekuasaanNYA knp qt msh meragukan perintahNYA???Why??
This written just 4 person whose want to try n try be better in their life…Likes me still try to be better.He3X^_^, Moga tulisan yg berkelana kemana-mana ni bermanfaat buat yg baca. AMin
Hiks…numpang pidaato Bozz…He3X mumpung pas ma temanya. MaturtengQ.
Wassalam
waduh… hehehe jadi melebar ke ranah iman. yup setuju, iman adalah percaya, bukan untuk ditanyakan dan dipertanyakan. tapi rasanya disini, cukup deh pembahasan mengenai keagamaan…
tulisanku diatas sebenarnya lebih kearah untuk menumbuhkan motivasi saja, bahwa segala sesuatu itu perlu untuk diperjuangkan. bukan hanya cukup diusahakan, tapi harus diperjuangkan untuk mencapai hasil yang terbaik.
karena aku sering gatel mendengar ungkapan2 pesimis bahwa ya udahlah rejeki dah ada yg ngatur, mengenai keirian karena ada perbedaan jenjang di etnis tertentu di negara kita ini entah dalam hal ekonomi, kedudukan, status. yang ternyata itu salah kita sendiri yang tidak cukup keras dalam memperjuangkan sesuatu dan tidak cukup baik dalam mengelolanya. tentu perjuangan dengan cara2 yang benar tanpa mengorbankan hak2 orang lain.
intinya, perjuangkanlah sesuatu… sebaik2nya, semaksimal mungkin. Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum, jika kaum itu tidak “berusaha” untuk merubah nasibnya. jika kita tidak melakukan hal ini, maka suatu saat nanti.. kesempatan2 itu akan diambil oleh orang lain (mungkin bukan sodara sebangsa kita tapi juga orang dari negara lain, etnis lain, dll). dan kita akan menyadari bahwa kita telah mendzalimi waktu dan kesempatan yang telah diberikan Allah terhadap kita. dan yang menanggung resiko itu bukan hanya kita sendiri, tapi semuanya, anak cucu, dan generasi setelah kita.
semangat!
Gan, say suka hukum energi yg satu ini:
Hukum Kekekalan Rejeki Idan (HKRI) I berbunyi… “rejeki tidak akan hilang, rejeki hanya akan berubah bentuk dari satu bentuk ke bentuk lainnya.”
Hukum Kekekalan Rejeki Idan (HKRI II) II berbunyi.. “kehidupan adalah syarat mutlak. dan perpindahan rejeki bergantung pada waktu”
Tapi saya lebih suka yg ini:
“Hukum Kekekalan Rejeki Idan.. akan dipatenkan ke direktorat Hak Cipta Atas Kekakayaan Intelekgila…”
kekeke…