aku nemu tulisan ini di profile salah seorang user friendster, rasanya ga bole disebutin identitasnya deh, karena mesti dapat autentikasi dulu hehe. menarik untuk dicatat disini, buat ngingetin anda2 yang pada lom merit jugak hingga saat ini, ya ampun… kasian banget sih anda2 ini… gak laku ya?!… [kalo iya berarti selamat, saya teman anda hehehehe...].
aku dah pernah denger ini dari kakakku [biasalah namanya juga kakak pasti menasehati adiknya], tp sayang aku ga nemu artikel aslinya, mo ngarang sendiri… ya gak mungkin [gimana mungkin.. sma dulu pas kelas dua aja pelajaran bahasa indonesiaku dapat 5.. dendam sama guruku itu!!]
Suatu hari, Plato bertanya pada gurunya, “Apa itu cinta? Bagaimana saya menemukannya?
Gurunya menjawab, “Ada ladang gandum yang luas didepan sana. Berjalanlah kamu dan tanpa boleh mundur kembali, kemudian ambillah satu saja ranting. Jika kamu menemukan ranting yang kamu anggap paling menakjubkan, artinya kamu telah menemukan cinta” .
Plato pun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan tangan kosong, tanpa membawa apapun.
Gurunya bertanya, “Mengapa kamu tidak membawa satupun ranting?” Plato menjawab, “Aku hanya boleh membawa satu saja, dan saat berjalan tidak boleh mundur kembali (berbalik)”. Sebenarnya aku telah menemukan yang paling menakjubkan, tapi aku tak tahu apakah ada yang lebih menakjubkan lagi di depan sana, jadi tak kuambil ranting tersebut. Saat kumelanjutkan berjalan lebih jauh lagi, baru kusadari bahwa ranting-ranting yang kutemukan kemudian tak sebagus ranting yang tadi, jadi tak kuambil sebatangpun pada akhirnya”
Gurunya kemudian menjawab, ”Jadi ya itulah cinta”
Di hari yang lain, Plato bertanya lagi pada gurunya, ”Apa itu perkawinan? Bagaimana saya bisa menemukannya?”
Gurunya pun menjawab “Ada hutan yang subur didepan sana. Berjalanlah tanpa boleh mundur kembali (menoleh) dan kamu hanya boleh menebang satu pohon saja. Dan tebanglah jika kamu menemukan pohon yang paling tinggi, karena artinya kamu telah menemukan apa itu perkawinan”
Plato pun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan membawa pohon. Pohon tersebut bukanlah pohon yang segar/subur, dan tidak juga terlalu tinggi. Pohon itu biasa-biasa saja.
Gurunya bertanya, “Mengapa kamu memotong pohon yang seperti itu?”
Plato pun menjawab, “sebab berdasarkan pengalamanku sebelumnya, setelah menjelajah hampir setengah hutan, ternyata aku kembali dengan tangan kosong. Jadi dikesempatan ini, aku lihat pohon ini, dan kurasa tidaklah buruk-buruk amat, jadi kuputuskan untuk menebangnya dan membawanya kesini. Aku tidak mau menghilangkan kesempatan untuk mendapatkannya”
Gurunya pun kemudian menjawab, “Dan ya itulah perkawinan”
NOTE
Cinta itu semakin dicari, maka semakin tidak ditemukan. Cinta adanya di dalam lubuk hati, ketika dapat menahan keinginan dan harapan yang lebih. Ketika pengharapan dan keinginan yang berlebih akan cinta, maka yang didapat adalah kehampaan… tiada sesuatupun yang didapat, dan tidak dapat dimundurkan kembali. Waktu dan masa tidak dapat diputar mundur. Terimalah cinta apa adanya. Pernikahan adalah kelanjutan dari cinta. Adalah proses mendapatkan kesempatan, ketika kita mencari yang terbaik diantara pilihan yang ada, maka akan mengurangi kesempatan untuk mendapatkannya, Ketika kesempurnaan ingin kita dapatkan, maka sia2lah waktumu dalam mendapatkan pernikahan itu, karena, sebenarnya kesempurnaan itu hampa adanya.
gimana? daleeeeeeeeeeeemmmm… [emang sumur], yaahh bgitulah, tp ada satu lagi… pernikahan bukan hanya cinta, tapi yang juga lebih penting dari itu semua… ikhlas.
menurutku sih begitu… comment? gak setuju? setuju? deal? no deal?
RSS feed for comments on this post. TrackBack URL
deal….deh soalnya Aq prnh baca ini juga di kaskus,mirip hny beda printah tebang, di kaskus suruh cabut tu pohon yg dianggap ringan.Tp intinya sama si….
Ehm….emang qt sering berharap datngnya dewi/dewo cinta hinggap(emang laler?!) tapi…
trnyt blm jg.
* cinta adalah ikhlas emang benar…memberi tanpa mengharap imbalan, tujuan qt hny ingin dia bahagia….duh melase. Hiks
Oya ada kt2 bagus dari tmn adik kosQ,
Jk km menyukai seseorang krn dia cakep itu bkn cinta tp nafsu, jika km menyukai seseorang krna dia kaya maka itu bukan cinta tp matre, jk kamu menyukai seseorang karna dia pintar, maka itu bukan cinta tapi kagum, jika kamu menyukai seseorang karna dia baik, maka itu bukan cinta tapi rasa terima kasih. TAPI….jika kamu menyukai seseorang tanpa tahu alasannya maka itulah cinta yang sebenarnya. Setelah kamu mencintainya, barulah kamu tahu alasan yang membuatmu menyukainya….
Sdikit lagi…..maklum bahasan cinta tu Puanjang Gan….!He..he..he
*Kebanyakan orang bilang lebih baik dicintai dari pada mencintai….Q pikir bukan lebih baik tapi sama. bahkan kalo disuruh memilih mk aq kn pilih mencintai lebih baik dari pada dicintai orang yang tdk kita cinta.
karna kt “mencintai” itu aktif.
*Mencintai karna kita punya cinta (dianugrahi rasa “CINTA”), maka bersyukurlah orang2 yg dianugrahi rasa “CINTA” oleh Allah.
*Dgn mencintai,kita bs mlakukan apa yang
sebelmnya tdk bs kita lakukan…merubah yang buruk menjadi lebih baik, dan mash bnyk kekuatan lain yg qt dpt.
*Dgn mengaktifkan rasa cinta yang dianugrahkan pada Kita maka Insyaallah orang yg tdk mencintai kita lama-lama akan mencintai…Insyaallah. Jika pun tidak datang dari dia maka tunggulah saat yang tepat pangeran/ratu lain akan dtang menjemputmu/menghampirimu….Amin
Sekian…Thanks. Smangat!^_^
kyak luas bangun= panjang X lebar, maklum lagi seriosa soale….he..he..he
heeheh makasih commentnya anis…
kalo menurut aku pribadi nih, pemicu dan motivasi cinta mungkin memang berbeda2 dan kalo aku sendiri nggak berani menjudge itu nafsu, matre, kagum, atau terima kasih. karena masing2 itu memang punya value dalam menjalin hubungan.. dan hal tersebut alamiah.
aku pernah baca buku “kado pernikahan untuk istriku” yang mengupas tentang kriteria jodoh, dan itu dibenarkan kok. bahkan pernah ada salah satu sahabat Rasulullah yang sangat bagus agamanya namun buruk rupa (semoga aku tidak salah menulis) dengan seorang wanita. lalu wanita itu menangis dan mengadu ke Rasullullah… dia memuji keimanan sahabat itu, tapi dia takut jika dia tidak rela dan malah akan membuat dia tidak patuh pada suami. lalu Rasulullah menyuruh sahabat untuk menceraikannya. (semoga aku tidak salah tulis, selengkapnya bisa dibaca di buku)
yang jauh lebih penting adalah bagaimana untuk menghadirkan keihklasan dan kerelaan setelah hubungan berjalan. ikhlas dan rela akan mengesampingkan hal2 material dan fisikal itu menjadi perasaan untuk “saling”. saling “berusaha” (karena emang butuh tindakan aktif) mengerti kelebihan dan kelemahan masing2 seiring perjalanan waktu hubungan itu berjalan.
intinya, keberkahan akan mengikuti dimana keikhlasan dan kerelaan berada.
jangan ada paksaan, jangan ada bujukan, dan jangan ada rayuan dalam pedekate. terlalu pasif ya? heheh. tapi klo dah menikah.. merayu dll itu wajib hehe, karena menyenangkan pasangan itu wajib :p.
semua yang aku tulis diatas ini lebih ke arah pernikahan soalnya hehe, soalnya kalo tentang cinta saja… aku rasa itu masih terlalu absurd. aku ibaratkan cinta itu adalah iktikad, tapi menikah adalah ikhtiar.. bagaimana menurut kamu? hehehe
He..he..he…
Yup tulisan Idan tidak salah. memang benar.
Oya aq juga pernah baca riwayat tullisan itu. cuman beda buku aja, buku yang kubaca “Kupinang kau dengan Hamdalah”, “Istikharah Cinta”. Ya intinya membahas sesuatu yg selama ini banyak orang nantikan. Pernikahan….Wuih….kapan ya?He..he..he..
Maksud Idan emang tdk jauh beda dgn maksudQ, kalo dari awal yang kita lakukan (dgn niat) adalah kebaikan maka kebaikan itu otomatis akan mengikuti kita…i’am believe it.
Wah…pasif ga juga sih, maklum qt ni kaum hawa jadinya emang udah kodratnya punya rasa malu, tapi klo da respon aktif yang pasti hawa juga bs aktif..pa lagi seprti yang Idan bilang setelah merit pasti hawa bisa lebih aktif…, Ingat pgn Ibadah terus solae. He..2X.(Duh ngomong apaan pasif aktif kyk peljrn Bhs Indonesia. He…2X)
Ehm…tentang cinta adalah iktikad, dan menikah adalah ikhitiar…
Tapi sebelum kita hitung luas bangun: PANJANG KALI LEBAR.He..lebih dulu kita kenal makna iktikad dan ikhtiar….apa bedanya???
Kalo menurutQ iktikad tu TEKAD, tekad lebih dekat dengan niat…., klo ikhtiar tu USAHA. Usaha ada setelah ada TEKAD alias Niat..
Bagaimana Idan dgn pemaknaanku di atas?
Jika correct, berarti cinta dulu baru menikah. Lho???!,
kata “cinta” perlu digaris bawahi. skarang kita berfikir Pernikahan itu kan Sunnah rasul…
Kita melakukan sunnah rasul adalah wujud cinta kita pada Allah dan rasul, So…..dengan cinta itu kita berusaha, berusaha menumbuhkan cinta pada pasangan yg memang sudah digariskan, meskipun mkn saat kita menikah, mkn kita blm merasakan cinta(adanya hasrat) untuk mengasihi. Tapi karena adanya keberkahan setelah menikah itu, kita jadi bisa MENGASIHI dan MENYAYANGI pasangan kita. wuii…..romantic!
Idan, Tahu beda MENGASIHI dan MENYAYANGI???
Qpikir seperti itu, tak ada pendapat yang salah, just different reason aj…Oke^_^
Slamat mencoba…..he..he..he…
Oya Thanks so much for your support. Aq jadi bersemangat lagi, yah Moga qt bs selalu survive….Amin
heheh waduh jadi bahasan yang berat hehehe…
tp ya ya.. tentang iktikad dan ikhtiar kayaknya emang aku salah analogi. maksudku cuman gini, klo cinta itu kayaknya masi seputar perasaan tanpa tanggung jawab yg cukup signifikan, klo nikah itu dah mengcover smuanya. tapi ya gak tau jg sih…
klo nikah, apa2 yang dulunya haram malah menjadi berpahala hehehe…. itu kata buku hehe, aku cuman menyimpulkan sepotong2 ilmu aja
yg ttg cewe cowo.. dua2nya punya kekuatan yang sama kok, cuman beda caranya aja. kata orang2, cowok punya hak untuk nembak, cewek punya hak untuk nolak heheh. jadi cewek itu punya kebebasan untuk memberikan jalan. nah klo dalam hal ini nih emang kadang aku sendiri sebagai cowok ngerasa ada mentoknya. jadi gimana… mau dipaksakan, ngotot, ntar malah jadinya gak ikhlas kan?
ttg belajar mencintai setelah menikah, totally agree!! hehehe. even actually i’m not sure whether i could do that or not… heheh
btw kita ini jaga warnet malah bahas yang rumit2 kek gini, tuh lely lagi sibuk heheh… ngeprint terus hari ini. eh aku nulis log ttg ngopienet di kolom berjudul remanaging, coba dkasi masukan klo ada yg kurang2 gmana
yup2 semangat, kita semua harus selalu mendukung, itulah ngopienet family semangat kekeluargaannya yang bener2 mesti kudu dijaga hehheeee…. makanya harus segera direalisasikan ngopienet outbond 4 ke sempu islandnya hehe
Menikah tanpa cinta? Uh, resikonya terlalu besar. At worst, bisa terjadi perselingkuhan. At best, pernikahan yang hambar tanpa cinta.
Yang saya SANGAT heran, kok sepertinya banyak nasehat-nasehat “berbau Islam” yang tidak mempedulikan faktor cinta dalam pernikahan, seolah-olah cinta itu tidak penting dalam Islam. Malah waktu dulu saya kuliah, ada teman saya yang ekstrem, mengatakan bahwa “menikah itu tidak boleh karena cinta, tapi harus karena ibadah”. Padahal kalau ibadah tidak ikhlas kan jadi sia-sia. Percuma bertahun-tahun menderita pernikahan yang hambar tapi sia-sia.
Padahal menurut saya, Islam bukan agama yang kolot dan tidak manusiawi yang mengabaikan faktor cinta. Dari apa yang saya baca-baca mengenai Islam (yes, I do read a lot), Islam memandang bahwa faktor ketertarikan merupakan faktor yang tidak bisa diabaikan begitu saja.Islam melarang seorang wali menikahkan seorang gadis tanpa persetujuannya dan menghalanginya untuk memilih lelaki yang disukainya seperti yang termuat dalam Al Qur’an dan Al Hadist.
“Dari Ibnu Abbas rodhiyallahu anhu , bahwa seorang wanita datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alahi wa sallam , lalu ia memberitahukan bahwa ayahnya telah menikahkannya padahal ia tidak suka , lalu Rasulullah shalallahu ‘alahi wa sallam memberikan hak kepadanya untuk memilih” (HR Abu Daud)
Tapi kenapa di Indonesia ini sepertinya agama sering dijadikan “excuse” untuk cepat-cepat mendorong orang untuk menikah? Saya sudah melihat banyak sekali teman-teman saya yang menikah tanpa cinta, karena target umur (merasa sudah harus menikah), karena kewajiban kepada keluarga, karena tekanan sosial, dsb, dsb. Dan banyak dari mereka yang jadi “mengkambinghitamkan” agama. Sepertinya saya tidak perlu bercerita lebih lanjut bahwa banyak dari mereka yang tidak bahagia, bahkan ada yang berselingkuh (the wife) dan punya simpanan (the husband).
Sebetulnya budaya pernikahan tanpa cinta itu adalah budaya kolot dari Inggris di jaman Victoria di abad ke -19, dan mulai “ditularkan” ke masyarakat Timur melalui penjajahan. India, contohnya, tadinya adalah masyarakat yang sangat liberal, tapi masyarakat India mulai mengenal kawin paksa dan sebagainya setelah penjajahan Inggris.
Oh, just FYI, saya sendiri bujangan, umur 34, dan terus terang, sampai sekarang saya belum ikhlas untuk menikah. Mungkin nanti akan ada wanita yang bisa membuat saya ikhlas untuk menikah, tapi mungkin juga tidak. Until then, who cares? I want to live happily.
Regards,
-Kresh